Friday, July 25, 2014

Seperempat abad

Terima kasih kepada Mamah, Bapak, kakak, adik dan seluruh sahabat2 semua. Alhamdulillah tahun ini menginjak usia seper 4 abad. Semoga jalan terus meraih mimpi & cita2. amin... semangat terus buat kita semua. Sukses dan jaya Selalu! amin.

Trims mah untuk kue ulang tahun nya : ).
Trims Anin untuk kado fotonya... : )
Trims

Monday, May 19, 2014

Ceritaku lapangan di Cikarawang, Dramaga.


Ingin kembali lagi rasanya ke warung kopi.

 “Umi… ada kopi? Mau dong  kopi, ada kopi hitam? Gulanya sedikit aja ya Umi.” Ujarku pertama singgah di warung ini.

Sore hari yang sejuk, mencicip kopi, bercakap-cakap, membuka tablet untuk foto dan me-tweet, aktivitas aku di warung sambil menunggu teman-teman yang berkeliling desa.

Aku tidak tahu apa nama warung ini. Wong  tidak ada warung lagi yang buka, ya aku putuskan duduk di warung ini. Sebelum aku duduk, tiga lelaki menawarkan makan mie ayam yang siap disantapnya. Aku balas dengan ucap “terima kasih mas, silakan… saya numpang duduk ya.”

Sekilas tentang warung dan pemiliknya
Ibu Ernah, nama pemilik warung, warga asli Cikarawang. Aku biasa memanggil beliau dengan Umi. Umi berusia 66 tahun dengan memiliki lima orang anak. “Daripada di rumah bengong, ya mending di warung,” ujarnya  yang pernah bekerja di TK Agriananda (terletak di dalam kampus IPB) selama sekitar 37 tahun.

Thursday, May 15, 2014

Survey Lapangan Desa Cikarawang, Dramaga Bogor

Ayo ikut ‘Belajar sambil Jalan-Jalan dan Berkemah di Desa Cikarawang-Desa Lingkar Kampus IPB’

Survey kali ini menyimpulkan, kami akan berkegiatan di Desa Cikarawang Sabtu Minggu 17 dan 18 Mei 2014. Siapkan alat tulis, kamera, seperangkat alat berkemah, bahan masakan yang enak-enak dan kaki kalian!. Kita akan bersenang-senang kawan… jalan-jalan mengelilingi desa, foto-foto, ngobrol dengan masyarakat, isi kuisioner, wawancara mendalam, dan buat kerangka tulisan. Lalu mengolah data dan diinterpretasikan. Hasilnya adalah catatan kajian lapangan sosial ekonomi budaya desa Cikarawang dan cerita berupa penulisan popular yang bisa di akses di www.lawalataipb.org . Tema besar mengenai Air. Bagi yang tertarik mau ikut, Ayo bergabung (dengan menghubungi dahulu saya).

Prolog
Cerita ini diawali dengan kebutuhan teman-teman ekspedisi Sangkulirang 2014 praktik kajian Sosial Ekonomi Budaya (Sosekbud). Materi berupa sharing sudah kami lakukan Senin 12 Mei pkl 19.30-24.00 WIB di Sekretariat Lawalata IPB.


Sunday, May 11, 2014

Akhirnya… Aaah… Wisuda juga


Rabu 30 April 2014, hari bersejarah bagiku. Betapa tidak… Suasana pagi yang cerah mengantar aku dengan gagah menuju Graha Widya Wisuda lengkap memakai Toga. Ya, aku merupakan salah satu dari 859 orang yang mengikuti wisuda tahap V periode tahun ajaran 2013-2014.

Foto bersama keluarga Lawalata IPB
Aku, Ponti dan Jompo (kiri, tengah dan kanan) wisudawan Lawalata 30 April 2014
Biasanya aku yang menginfokan kepada kawan-kawan untuk menghadiri wisuda kakak kelas. Tetapi hari ini tidak, wong aku yang di wisuda, berharap kawan-kawan hadir untuk meramaikan suasana.

Momen wisuda ini mengingatkan aku pada wisuda 5 tahun silam, tepatnya 15 Agustus 2009 di GSG (Gedung Serba Guna) SMAKBO. Kala itu kami 219 wisudawan analis kimia dipanggil satu per satu dengan disebut nama, nama orang tua, lalu disebut  “Bekerja di….. atau melanjutkan studi di….” Kesempatan wisuda ini tidak, kami dipanggil dengan disebut nama, nama keluarga (nama ayah), dan status yusidium (cumlaude, sangat memuaskan, memuaskan). Hanya cumlaude dan sangat memuaskan yang disebut.

Aku sangat senang karena ayah dan ibu datang. Semoga mereka bangga atas capaianku hari ini. Yah walau sedikit telat dari targetku yang awalnya 3,5 tahun, aku pikir tidak masalah, mengingat aktivitasku di kampus yang padat merayap.
Ibu dan Ayah ku

Setelah wisuda ini aku berhak menyandang gelar Sarjana Ekonomi (SE), walau tidak banyak mengerti tentang ilmu ekonomi karena aku jurusan Manajemen. Padahal sebelum di IPB, aku adalah panji analis kimia yang mabuk karena bermain-main di Laboratorium selama 4 tahun. Fiuhhh…

Terima kasih kawan-kawan yang telah datang meramaikan (Lawalata IPB, Manajemen 46, dan lainnya yang terlalu banyak disebut satu per satu). Terima kasih untuk kalian yang memberikan aku buah tangan. Banyak bunga (warna-warni), boneka wisuda (2 buah), dan karikatur diri (plus figura) yang aku terima. 
Usaid, Dafi dan Alam (kiri, tengah dan kanan)
 teman seperjuangan Pemira 2012


Angkatan Manusela
(kiri atas ke kanan bawah :
Dafid, Dafi, Alam, Nurmadiah, Hana Mila, Hilma, Yana, Uni Sutiah, Ariya)





Terima kasih Manusela. Untuk Manusela, selamat menjalankan fase selanjutnya… Terlalu indah bila mengingat kalian dan akan selalu teringat. Ditunggu kabar-kabar baiknya ya Manusela… 














Terima kasih kawan-kawan yang hadir untuk kita foto bersama. Lanjutkan perjuangan ini! Harumkan nama organisasi dan berikan yang terbaik dari yang kalian miliki. 
Foto bersama angkatan Sangkulirang (Angklatan 50 IPB)
Suatu saat kalian (angkatan Sangkulirang) akan menyusul, pastinya!!. Sekarang nikmati dulu aja masa-masa terindah kalian di kampus. Jalan-jalan, naik gunung, turun gua, susur pantai, susur sungai, ngukur pohon, ngamatin katak, ngamatin burung, mulung sampah nanam bibit, wawancara, push up, sit up, lompat-lompat, rapat, diskusi, bikin laporan, kerjain tugas, bikin power point, presentasi, tidur di kelas, bikin ekspedisi, bersiteru tegang, tertawa bersama, begadang, ronda, masak-masak,  nonton film, nanem-nanem atau sekedar duduk di tepi danau…5 tahun terasa cepat melalui itu semua kawan.

 Masih terngiang 2 tahun silam, pada wisuda Rabu 29 Februari 2012,  pikiranku berkata “Suatu saat aku yang akan memakai toga itu, amin.” Akhirnya… Aaah… Wisuda juga.  : )



Saturday, March 22, 2014

Apapun Profesinya, Ayo Kita Peduli Air

Air, Menjelajah dan Menulis
          Sepertinya kita semua sepakat, bahwa air adalah salah satu sumber daya alam penting bagi kehidupan manusia dan kelestarian alam. Apapun jenis air, air dalam kondisi jernih dan layak minum yang dbutuhkan manusia. Penjelajah adalah sebutan saya untuk orang yang suka berjalan-jalan terutama di alam bebas. Berjalan menelusuri sungai, masuk menerobos lebatnya hutan, mengamati satwa, mendaki gunung, atau sekedar jalan kaki dibawah langsung naungan langit biru, intinya adalah berjalan di alam bebas. Menulis, bagi saya menerjemahkan apa yang ditangkap panca indera, buah gagasan hasil berpikir bahkan ekspresi kegelisahan hati, yang tertuang dalam huruf-huruf terangkai menjadi sesuatu yang dapat dibaca, dinikmati dan menggerakkan orang lain.
        
Bagi yang suka mendaki gunung, mengetahui keberadaan mata air atau sungai di Gunung menjadi sangat penting, karena terkait jumlah air yang harus dibawa dari titik awal pendakian. Begitupun bila kita ingin menjelajah ke tempat lainnya, “Apakah mudah bagi kita untuk mendapatkan air bersih?” ujar saya dalam hati. Bila masih di dekat warung atau pemukiman penduduk kita masih dapat membeli atau meminta air kepada masyarakat, namun bila di tengah hutan? Duit pun rasanya tidak bermakna.
           
Keprihatinan mendalam muncul saat kita menyaksikan jauh lebih dekat realita di lapangan. Berjalan di tengah hutan saya masih dapat melihat jernihnya air, deru riak sungai kecil, bahkan untuk mandi dan minum. Ini cerita hulu yang sangat berbeda dengan hilir. Pada hilir sungai, terkadanga aroma tak sedap, berwarna hitam merona, dan sedikit gatal bila air menempel di kulit. Lalu pertanyaannya, siapa yang harus mengurusi air ini? Apakah pemerintah, swasta, masyarakat, atau kita semua? Selanjutnya apa yang harus kita lakukan? Dan Landasan apa yang membuat kita harus peduli air (dalam arti tinjauan filosofinya?
         
Pada kesempatan ini, saya akan beropini peran orang yang suka jalan-jalan dalam peduli air.  Cukup mudah dan banyak yang dapat dlakukan. Kita dapat memperhatikan kondisi air atau sungai di lingkungan sekitar, mengetahui dari mana air yang digunakan masyarakat sekitar dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan bila mungkin untuk mengambil foto sumber air atau sungai tersebut. Lalu kita dapat mengupload, menulis, bahkan bernarsis ria dengan foto tsb. Tujuannya agar orang lain tahu lalu iri melihat kita dapat menikmati air bersih langsung dari alam. Harapannya agar orang lain berpikir dan bermimpi untuk berperan dalam menjaga kelestarian air.
         
Bila Anda suka mengambil foto atau video, ambilah gambar bertema air, bila Anda senang menulis coba menulis tentang air, Apapun profesi pekerjaan dan status kita, cobalah bercerita dengan media apapun untuk menceritakan dan mengajak orang lain peduli air. Bahkan bila Anda yang ingin mengerjakan tugas akhir, makalah, skripsi, tesis, dan disertasi cobalah melakukan kajian air dari perspektif keilmuan Anda. Ternyata asik juga ya berbicara air.

Ternyata saya baru tahu bahwa Pemerintah sudah mengatur Sumber Daya Air dalam bentuk Undang-Undang No. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Ada juga Dewan Sumber Daya Air. Saya pernah mendengar bahwa kementerian yang berkepentingan dengan air ada pada dua belas kementerian. Bahwa hari ini 22 Maret adalah  Hari Air. Momentum yang tepat untuk kita merefleksi kepedulian kita terhadap air. Jadi, peran apa yang mau kita ambil untuk menjaga kelestarian air? Apapun profesi kita, Ayo peduli air… 

Monday, May 27, 2013

Menyoal FEM bagi Pertanian Indonesia


Beruntung bagi kita mahasiswa IPB karena sektor pertanian adalah pondasi utama kehidupan bangsa. Jumlah penyerapan tenaga kerja sektor pertanian pada 2011 sebesar 39,3 juta orang atau merupakan 33,51 % dari jumlah total angkatan kerja nasional (Deptan 2012). Pertanyaannya, bersediakah kita berkontribusi untuk PERTANIAN Indonesia?
Kondisi sawah yang masih asri di kab. Grobogan, Jawa Tengah 
                                         
           Menjadi tantangan bagi diri kita ketika masuk ke Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB.  Mau tidak mau, suka tidak suka, melekat di diri kita “label” PERTANIAN.

Menengok sejarah, dasar pembentukan FEM berdasar prasasti yang ditandatangani oleh Wakil Presiden RI saat itu, Megawati Soekarno Putri, pada tanggal 6 April 2001.  Isi prasasti yaitu ”Disadari bahwa pilar utama pembangunan ekonomi berkelanjutan adalah pembangunan pertanian yang seluas-luasnya ditujukan bagi kesejahteraan bangsa dan negara secara berkeadilan.  Untuk itu, keberadaan Fakultas Ekonomi dan Manajemen - Institut Pertanian Bogor akan memperkuat kemampuan makro dan mikro ekonomi pertanian Indonesia.”

            Pertanyaannya, sudahkah arah gerak kita selama ini menuju PERTANIAN? Saya melihat visi misi dan tujuan FEM IPB tidak satu pun tersurat kata PERTANIAN, lantas?

            Saya berharap FEM mampu berkontribusi lebih terhadap pertanian. Banyak cara, seperti : kajian skripsi mahasiswa FEM sebaiknya berkaitan dengan PERTANIAN, Program Kerja LK di FEM bermuara PERTANIAN (mau berkolaborasi dengan Himpro-Himpro dari fakultas Pertanian, Kedokteran Hewan, FPIK, FAPET, FAHUTAN, FATETA) dan sumbangsih ilmu pada setiap Departemen FEM mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat PERTANIAN terutama Petani. Jangan dahulu bangga dengan data makro. Lihat bagaimana kondisi petani secara langsung dari dekat. Semoga kedepannya FEM IPB selalu bisa bergerak nyata berpihak pada PERTANIAN di masyarakat sekitar kampus lalu Indonesia. yak, semoga.

Monday, January 21, 2013

Peluang, Tantangan dan Peran PTPN X dalam Industri Pergulaan Nusantara


Mutiara Kristal. Itulah ungkapan yang tepat bagi saya untuk mendefinisikan gula. Berbentuk butiran Kristal, berwarna putih kekuning-kuningan yang keberadaannya vital mencakup hajat hidup orang banyak. Anak-anak, remaja, orang dewasa, membutuhkan gula sebagai pemanis hidup sesuai dengan kadar yang dibutuhkan. Hampir setiap jenis makanan dan minuman membutuhkan bahan baku gula. Jajanan kue pasar sampai kue tar membutuhkan gula. Teh manis yang sering tersaji untuk tamu membutuhkan gula. Bahkan, kopi yang rasanya pahit sekalipun membutuhkan gula agar terasa lebih nikmat.. Itulah gula pasir, yang dikonotasikan positif oleh Habibie untuk memuji Ainun dikala pertemuan mereka.

            Masyarakat Indonesia membutuhkan gula. Walaupun kini banyak digulirkan bahwa dengan banyak mengkonsumsi gula sebagai salah satu penyebab penyakit diabetes, mau tidak mau, suka tidak suka, kebutuhan terhadap gula di Indonesia harus tetap terpenuhi. Apakah pemerintah mampu memenuhi kebutuhan gula untuk bangsanya? Mungkin untuk jangka pendek jawabnya adalah iya, dengan melakukan impor gula. Namun, itu bukanlah langkah yang bijak mengingat bonus demografi negara Indonesia. Iklim yang cocok untuk tanaman tebu adalah modal besar bagi Indonesia untuk berswasembada gula. Bahkan seharusnya, semangat yang muncul adalah gagasan-gagasan positif bagaimana cara agar Indonesia menjadi negara pengekspor gula.

   Mengharukan. Indonesia sebagai negara agraris yang berbasis pada pertanian, hingga tahun 2012 masih mengimpor gula yang merupakan salah satu dari sembilan bahan pokok masyarakat. Kebutuhan dalam negeri sebanyak 2,97 juta ton Gula Kristal Putih per tahun hanya mampu terpenuhi 2,1  juta ton. Maka, Indonesia harus mengimpor gula dari negara tetangga yaitu Thailand.